Di Tengah Krisis PMK, Indonesia Masih Aktif Impor Sapi!

Di Tengah Krisis PMK, Indonesia Masih Aktif Impor Sapi!

Di Tengah Krisis PMK, Indonesia Masih Aktif Impor Sapi! – Beberapa wilayah di Indonesia tidak ada yang luput dari wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terhadap sapi. Padahal seluruh bagian sapi menjadi kebutuhan paling vital dalam kegiatan produksi. Tidak sedikit perusahaan yang harus merelakan diri untuk membayar mahal demi mendapatkan kualitas daging yang segar dan susu perah yang masih sama dengan tahun sebelumnya.

Akan tetapi Indonesia dinilai masih aktif dalam melakukan proses ekspor – impor sapi. Karena stok sapi dalam negeri masih terasa kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup, khususnya bagi para produsen susu ternama.

Menukil dari CNNIndonesia, ilmuwan asal Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Aditya Alta menyebut bahwa pemerintah wajib melakukan proses vaksinasi terhadap setiap sapi yang dinilai bermasalah baik di zona kuning dan merah dengan cara berkala. Diketahui bahwa vaksinasi anti PMK boleh jadi masih terbatas. Namun tak ada upaya lain untuk tidak memprioritaskan hal tersebut demi mencegah penularan yang semakin tak menentu setiap harinya.

Di Tengah Krisis PMK, Indonesia Masih Aktif Impor Sapi!

Di sisi lain, Kementerian Pertanian telah mencatatkan lebih dari 35 % stok sapi dan daging segar yang harus dilakukan prognosa. Dimana proses importir sapi tersebut bermula dari Australia yang didominasi oleh sapi bakalan.

Aditya menilai, tak sedikit faktor miring yang berdampak buruk terhadap ketersediaan sapi lokal. Salah satunya yaitu rantai distribusi, pembibitan yang selalu berkurang bahkan mungkin biaya pengiriman yang tidak terjangkau. Hal itu jelas memicu upaya pemerintah untuk melakukan cara alternatif untuk mendapatkan sapi dengan proses cepat dan praktis.

Lebih lanjut, banyak cara yang bisa dikembangkan oleh pihak pemerintah demi menjaga kualitas ketersediaan sapi nasional. Nantinya hewan ternak tersebut akan dijadikan populasi paling besar hingga berhasil memberikan produktivitas susu setiap tahun.

“Para peternak dan peternakan sapi di Indonesia tak pernah kekurangan stok pakan untuk mencukupi kuantitas sapi. Akan tetapi mereka malah mempersulit perluasan lahan yang secara tidak langsung dapat ditangani secara kolektif,” kata Aditya.

“Peran pemerintah memang harus proaktif dalam melancarkan usaha rakyat. Karena mereka sangat mampu untuk memakmurkan inflasi dan devisa negara jika memiliki fasilitas yang baik dan mumpuni,” sambungnya.

Lebih dari itu, sejatinya pemerintah bisa saja menawarkan media teknologi untuk memberikan akses mudah terhadap para peternak sapi modern. Dimana hal tersebut sangat bisa dilalui dengan berbagai cara mulai dari dukungan program peningkatan terhadap petani, perusahaan, koperasi, donor, LSM dan pihak lain yang turut terlibat di dalamnya.

Selebihnya masalah harga sapi di Indonesia tetap terjangkau dan bahkan sangat murah jika dibandingkan stok sapi impor. Tak hanya itu saja, kualitas pakan ternak yang selama ini terawat dengan baik selalu menghadirkan keuntungan besar terhadap negara, lebih – lebih bagi para peternak lokal.

Aditya tak henti – hentinya berharap bahwa pemerintah harus tetap bijaksana dalam memastikan tercapainya industri peternakan yang kohesif dan kompetitif untuk menyetarakan nilai investasi dan perdagangan.

Berdasarkan catatan terbaru, jumlah angka kematian sapi di tanah air mencapai 298.933 ekor. Kasus kematian terbanyak didominasi oleh pulau Jawa sebagai jalur utama proses ekspor – impor.
“Penyebaran PMK tidak sepenuhnya berasal dari peternakan lokal. Namun bisa jadi hal tersebut bermula sejak proses impor sapi beberapa bulan lalu,” tegas Aditya.

“Perlu adanya perusahaan pengolahan yang berlaku sebagai pemasok dan pembeli agar peternakan sapi lokal masih tetap terjaga. Sehingga kebutuhan stok susu atau daging segar selalu tersedia hingga partai besar,” tutupnya.