Berita

Muncul Proposal untuk Mengganti Total APT ke Snap pada Ubuntu

APT merupakan Advance Package Tool, perkakas untuk mengelola instalasi aplikasi pada distribusi Debian, Ubuntu, serta distribusi yang berbasis padanya. APT dirilis pertama kali pada tahun 1998 dan menjadi salah satu perkakas yang membuat sistem operasi GNU/Linux bekerja secara spesial.

APT mengatur bagaimana paket aplikasi berformat .DEB diinstal dan dihapuskan. Ia juga bertanggung jawab mengatur peletakan pustaka dinamis (dynamic library) atau shared object agar dapat dijalankan oleh berkas-berkas biner (aplikasi) yang memerlukan.

Cara kerja instalasi aplikasi pada GNU/Linux yang bagi banyak orang sungguh mumpuni itu dirasa merepotkan bagi proses pendistribuan aplikasi ke sistem operasi tersebut. Entah karena menyulitkan pengembang upstream untuk memasarkan aplikasi ke GNU/Linux maupun faktor lain.

Oleh karena itu, teknologi pemaketan aplikasi baru bermunculan untuk GNU/Linux dan semakin terekspos hingga meledak baru-baru ini. AppImage, Snap, dan Flatpak—​tiga teknologi terkini yang dimaksud. Sederhananya, teknologi ini mengizinkan sebuah aplikasi utama dibundel bersama dependensi-dependensinya, agak mirip seperti MSI pada Windows dan DMG pada macOS.

Ubuntu adalah upstream Snap sekaligus proyek yang serius menerapkannya sebagai perkakas utama. Kabar terakhir, muncul proposal dari seorang pegiat Ubuntu untuk mulai menerapkan Snap sebagai pengganti APT secara total.

Proposal ini disampaikan lewat repositori cetak biru Ubuntu oleh Kenny Strawn. Ia menyinggung, pada awal-awal tahun 2000 sistem manajemen paket sulit untuk dikonfigurasi. Apalagi terdapat fitur seperti PPA yang memantik masalah pada dependensi. Menurutnya, dengan hadirnya pemaketan aplikasi self-contained seperti Snap, kebutuhan penggunaan APT bisa lebih cepat dihapus.

“Terima kasih kepada Snap, kebutuhan akan APT bakal hilang lebih cepat. Aplikasi dari peramban (Firefox, Chromium) hingga aplikasi pengembangan yang kompleks (Android Studio) telah tersedia sebagai paket snap, jadi mengapa kita tidak menggunakan snap pada level sistem?” Tuturnya.

Proposal

Isi proposal

Dengan beralih ke Snap, pengguna akan lebih mudah mencoba aplikasi stabil maupun prarilis. Contohnya, snap install namapaket untuk memasang versi stabil, snap install –beta namapaket untuk memasang versi beta, dan snap install –edge namapaket untuk memasang paket versi prabeta. Bahkan juga dapat memutakhirkan sistem operasi dengan snap install cosmic (untuk memutakhirkan ke Cosmic Cuttlefish).

Jika proposal ini benar-benar diterima, belum tentu para pengguna menyukainya. Selain itu, proses peralihan juga tidak akan cepat begitu saja mengingat beberapa perangkat lunak belum mendukung Snap (seperti QtCreator).

Bagaimana menurut Anda?

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana
slot iklan

9 comments on “Muncul Proposal untuk Mengganti Total APT ke Snap pada Ubuntu

  1. Zen says:

    Menurutku bagus sih snap. Jadi lebih simpel dan nggak merepotkan gitu. Istilahnya kayak install APK. Instagram misalnya. Ya, Instagram aja yang kita install. Nggak usah memikirkan depedensi.

    1. Tiwo S says:

      Snap rakus space, respon lambat, integrasi tema masih kurang

  2. Andi Laksana says:

    di indonesia sudah ada manajemen apt yg telah disempurnakan, alldeb.

    1. Teguh says:

      Proyek alldeb msh jalan ya?

      1. Nif Kurniawan says:

        Tentu, masih 🙂
        di https://www.alldeb.net

  3. Sebas says:

    Saya setuju dengan ZEN snap bisa boros storage.. dengan anggapan bahwa setiap aplikasi membawa dependensinya sendiri.. kan tidak mungkin sebuah paket di install dua kali.. saya rasa KISS pada linux harus tetap di pegang teguh…

    1. Supangat OY says:

      betul saya stuju untuk tetap denagn apt,

  4. Appimage, flatpak dan snap adalah sistem pemaketan yang boros resource.

    Memang memudahkan untuk pengguna awam, tapi overall performance tidak bisa segegas sistem pemaketan konvensional.

    Menurut saya sistem shared librari dari pemaketan konvensional Linux sudah sempurna, tidak perlu dirubah-rubah lagi. Self contained packaging hanya alternatif saja untuk upgrade parsial aplikasi spesifik.

  5. wheel says:

    Sepertinya lebih pas kalau snap tetap digunakan sebagai alternatif untuk aplikasi-aplikasi tertentu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top