Review

[Ulasan] OpenSUSE Tumbleweed yang Selalu Terkini

Saya tidak tahu apakah saya termasuk distrohopper atau tidak karena sekitar empat/lima tahun ini saya telah menggunakan tujuh distribusi GNU/Linux yang berbeda.

Karena artikel ini ditujukan mengulas openSUSE Tumbleweed, saya tak akan membahas banyak hal seputar “enam distribusi” tersebut, tetapi sebagai bocoran, distribusi yang dimaksud adalah Fedora, openSUSE (pra-Leap), Manjaro, Gentoo, Slackware, Void Linux, dan Mageia, ditambah dua sistem operasi non-GNU/Linux, FreeBSD dan OpenBSD. Distribusi dengan masa pemakaian terpendek adalah Fedora dan distribusi dengan masa pemakaian terlama (enam bulan lebih) adalah openSUSE, Manjaro, dan Gentoo.

Setelah lama tidak menggunakan openSUSE, yang saat itu adalah versi 13.1, saya kembali memasang distribusi “kadal ijo” ini. Bedanya, saya lebih memilih openSUSE Tumbleweed karena ingin paket-paket aplikasi terpasang di laptop ini selalu gres tidak ketinggalan zaman.

Sekilas tentang openSUSE Tumbleweed

Proyek distribusi openSUSE menyediakan dua varian; openSUSE Leap dan Tumbleweed. OpenSUSE Leap adalah varian yang menerapkan rilis konvensional (rilis tetap) yang hadir setiap satu tahun sekali. Varian ini berbasis SLE (SUSE Linux Enterprise) ini memang stabil tapi tidak begitu memuaskan bagi para pengguna yang kebelet ingin mencicipi beragam paket aplikasi terkini.

Atas ketidakpuasan tersebut, openSUSE menerbitkan varian Tumbleweed pada tahun 2014. OpenSUSE Tumbleweed dibangun dengan basis proyek Factory dan menerapkan model rilis bergulir (rolling release). Untuk membayangkan bagaimana konsep rilis bergulir (rolling release), ia adalah model yang populer diterapkan oleh Arch Linux. Pembaruan pada varian memang sangat cepat, dua sampai tiga kali dalam seminggu. Ukuran setiap siklus pembaruan pun dapat mencapai 100MB lebih.

OpenSUSE Tumbleweed menyediakan citra DVD berukuran 4,7GB. Penting untuk dicatat, pengembang tidak pernah menyediakan unduhan torrent untuk varian ini karena rilis ISO snapshot-nya yang relatif cepat diperbarui. Saat ulasan ini diturunkan, ISO snapshot openSUSE Tumbleweed berada di versi 20180530. Oiya, tidak ada citra live di sini sehingga calon pengguna tidak dapat mencicipi terlebih dahulu openSUSE Tumbleweed. Untuk mencicipi secara live calon pengguna disarankan mengunduh citra ISO live openSUSE Leap varian GNOME atau KDE Plasma. OpenSUSE Tumbleweed menyediakan citra ISO live yang dapat menjadi media icip-icip sebelum instal. Citra live tersebut terdiri dari edisi GNOME, KDE, dan Rescue.

Proyek ini menyediakan openSUSE Tumbleweed untuk arsitektur 32-bit (i586) maupun 64-bit (x86_64).

Instalasi openSUSE Tumbleweed

Perkakas penginstal (installer) openSUSE Tumbleweed sangat membantu saya untuk memasang distribusi ini, bahkan saya jamin ia juga dapat dipakai oleh pengguna pemula tanpa perlu banyak belajar ini itu. Dialog-dialog instalasi memang sangat familiar bagi para “veteran” pengguna distribusi GNU/Linux desktop maupun bagi para calon pengguna GNU/Linux.

Dalam citra ISO openSUSE Tumbleweed tersedia empat antar muka pilihan; desktop KDE Plasma, desktop GNOME, server (ini cocok bagi yang ingin memasang openSUSE dengan mode CLI), server dengan fitur transactional update dan sistem berkas root baca-saja, ditambah “antar muka” kustom. Opsi terakhir dapat dipakai bagi calon pengguna yang ingin memilih desktop environment selain KDE Plasma dan GNOME, dan memilih set paket apa saja yang perlu dipasang dan tidak dipasang, seperti set paket permainan (game), fon, perkakas perkantoran, dsb.

openSUSE Tumbleweed
Figure 1. Pilihan antar muka

Sebelum memilih antar muka, terdapat dialog untuk mengatur koneksi jaringan, WiFi maupun LAN.

Sangat gampang. Saat saya memilih untuk mengatur jaringan WiFi, saya cukup memilih nama perangkat wireless yang ditampilkan pada penginstal. Tinggal klik-klik, pindai SSID, masukkan kata sandi bila ada, lalu connect.

Mungkin dialog instalasi yang tidak cukup familiar adalah dialog pemartisi, kecuali bagi orang-orang beriman mau membaca. Saya adalah tipikal orang yang selalu menanggapi (minimal dalam hati) dengan ungkapan OMONG KOSONG!! ketika ada pernyataan, “menjadi pengguna GNU/Linux belum lengkap kalau tidak pernah kehilangan data akibat salah partisi”. Oke, itu hanya intermezzo.

OpenSUSE Tumbleweed akan mendeteksi ruang kosong (ruang yang belum terpartisi) dan akan langsung menampilkan partisi yang direkomendasikan untuk memasang openSUSE di ruang tersebut. Kalau ruang kita sudah terisi, minimal sudah diformat dengan sistem berkas tertentu, openSUSE akan mencoba memformat ulang ruang tersebut dan akan memenuhinya dengan partisi yang disarankan.

Secara bawaan, distribusi ini akan menyarankan pengguna dengan pembagian tiga partisi. Root (/) dengan sistem berkas Btrfs yang terbagi ke dalam subvolume-subvolume, /home dengan sistem berkas XFS, dan swap. Karena saya sudah memiliki /home dengan sistem berkas EXT4 dan ingin menjadikannya sebagai mount point /home utama, saya perlu menuju dialog Expert Partitioner dan mengaturnya di sana. Saya tetap menggunakan Btrfs pada root (/) meskipun tidak mengaktifkan snapshot.

openSUSE Tumbleweed
Figure 2. Partitioner

Sekali lagi, fitur pemartisi openSUSE Tumbleweed tetap mudah dioperasikan asal tetap memperhatikan dan membaca, tidak asal next-next saja.

OpenSUSE Tumbleweed memperkenankan pengguna untuk mengatur kata sandi root sama dengan atau justru berbeda dari pengguna biasa. Untuk satu ini, saya tetap memilih untuk mengatur agar kata sandi root berbeda dari kata sandi saya, layaknya saat saya mengatur distribusi GNU/Linux yang pernah saya pasang sebelumnya.

Ada satu perilaku menarik dari openSUSE Tumbleweed yang berbeda dari distribusi GNU/Linux kebanyakan. Secara bawaan, ternyata distribusi rilis bergulir ini akan selalu menanyakan kata sandi root meskipun pengguna menjalankannya dengan sudo. Menurut berkas /etc/sudoers, fitur ini mengizinkan akun pengguna biasa untuk mengadministrasi sistem yang baru saja terpasang. Meskipun fitur ini dapat dinonaktifkan dengan cara menghapus baris:

Defaults targetpw
ALL  ALL=(ALL) ALL

saya tetap memilih untuk tidak mengubahnya.

Desktop environment bawaan

Saya memasang openSUSE Tumbleweed dengan desktop KDE Plasma 5.12.5. Saat posisi idle, konsumsi memori hanya sebesar 400-500MB. Tips bagi pengguna yang ingin lebih menurunkan konsumsi memori, cukup matikan Baloo dan animasi desktop.

openSUSE Tumbleweed

Ada beberapa masalah yang saya temukan saat menggunakan openSUSE Tumbleweed sehari-hari. Distribusi ini menggunakan libinput secara bawaan, entah mengapa, touchpad saya menjadi super sensitif. Two finger scrolling bekerja tetapi berjalan dengan kacau. Hanya dengan meletakkan dua jari saja di touchpad, kursor akan bergoyang bergerak kesana kemari. Ketika saya ingin mengatur kesensitifan touchpad melalui System Settings > Input devices, pengaturan sensitivitas touchpad justru berwarna abu-abu, tidak dapat diutak-utik. Ini mungkin dapat diatur melalui /etc/X11/xorg.conf.d/40-libinput.conf tetapi saya belum mencobanya. Saya pun kemudian mencoba beralih ke synaptics dengan memasang paket xf86-input-synaptics, touchpad kini berjalan normal.

Masalah lain, terkadang plasmashell mati dengan sendirinya saat saya mengetikkan nama aplikasi di Application Menu. Untuk mengatasinya cukup mudah terutama jika pengguna sering menjalankan Konsole di desktop dalam keadaan terbuka (bukan minimize). Saat plasmashell mati, saya hanya perlu menjalankan plasmashell di background melalui Konsole tersebut. Terkadang, plasmashell ini hidup sendiri jadi saya tidak repot-repot melakukannya.

Krunner (Alt+F2) juga terkadang crash. Saya belum menemukan pola saat ia crash, jadi saya belum dapat berkomentar banyak.

Meski begitu, secara keseluruhan desktop environment ini berjalan dengan baik. Saya tidak begitu mempermasalahkan hal-hal di atas karena workaround untuk membenahinya sangat mudah.

Memasang paket aplikasi

Untuk memasang paket aplikasi, pengguna dapat menggunakan zypper (CLI) atau YaST (GUI).

openSUSE Tumbleweed zypper
Figure 3. Mencari paket GIMP lewat zypper
openSUSE Tumbleweed YaST
Figure 4. Mencari paket GIMP lewat YaST

Selain lewat keduanya, openSUSE Tumbleweed juga menyediakan Plasma Discover untuk memasang aplikasi lewat “toko aplikasi”, fitur ini merupakan fitur bawaan KDE Plasma.

openSUSE Tumbleweed Discover
Figure 5. Mencari paket GIMP lewat Plasma Discover

Saya pribadi tetap lebih memilih cara pertama untuk memasang paket aplikasi. Oiya, selain dapat memasang paket konvensional (RPM), melalui Plasma Discover pengguna juga dapat memasang paket Flatpak dengan sebelumnya mengaktifkan repositori Flatpak terlebih dahulu melalui menu Settings. Pilih Flathub sebagai repositori Flatpak.

Saya masih cukup bingung bagaimana memasang aplikasi flatpak dari Plasma Discover tanpa harus menjadikan repositori Flatpak sebagai repositori utama.

Konklusi

Distribusi openSUSE Tumbleweed sangat cocok dipakai oleh orang-orang yang ingin selalu mendapatkan kebaruan, tetapi tidak cocok bagi yang memiliki koneksi internet terbatas (ukuran pembaruannya itu lhoo benar-benar besar, tidak tanggung-tanggung).

Saya akan lebih menyarankan openSUSE Leap kapada para pemula dibandingkan openSUSE Tumbleweed yang memang relatif lebih sulit pengelolaannya.

Perangkat keras yang dipakai

CPU: Dual Core Intel Core i3-3110M
speed/min/max: 1197/1200/2400 MHz
Memori RAM: 2GB DDR3
HDD: 500GB
Display: Intel HD Graphics
Network: Qualcomm Atheros AR9485 Wireless Network Adapter
Ethernet: Realtek Semiconductor Co., Ltd. RTL8111/8168/8411 PCI Express Gigabit Ethernet

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana
slot iklan

2 comments on “[Ulasan] OpenSUSE Tumbleweed yang Selalu Terkini

  1. Sedikit koreksi mas. Tumbleweed menyediakan iso live DVD utk KDE maupun GNOME. jadi kalau mengunduh iso DVD terasa berat, bisa mengunduh iso live DVD buat menjadi live usb dan jalankan. Bisa juga menginstal dari live DVD tersebut. Tks tulisannya.

    1. Terima kasih pak Edwin atas koreksinya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top