Review

[Ulasan] ‘Desktop Environment’ Ringan LXQt

GNOME dan KDE Plasma merupakan proyek desktop environment (DE) terbesar yang pernah dikembangkan oleh komunitas perangkat lunak bebas/merdeka dan open-source. Selain sebagai proyek, keduanya juga merupakan desktop environment dengan pengguna yang besar yang bahkan tak jarang melakukan gontok-gontokan tak perlu di forum daring.

Keduanya memang keren. Fiturnya sangat kaya. Dukungan perangkat terkini seperti layar sentuh juga ciamik. Namun, ada satu hal yang merisaukan, keduanya tak dapat dipakai secara optimal di perangkat dengan spesifikasi terbatas. Beberapa orang mengklaim bahwa mereka dapat menjalankan keduanya dengan lancar di spesifikasi minimalis, tetapi, saya yakin mereka memiliki tips tersendiri seperti menghentikan proses tertentu atau menghapus fitur tertentu agar desktop berjalan “sempurna”.

Untuk komputer yang memiliki spesifikasi terbatas atau pengguna yang memiliki selera desktop sederhana, desktop selain keduanya adalah pilihan yang bagus.

Perkenalkan LXQt

Anda pernah mendengar LXDE? DE minimalis yang menerapkan konsep metafora desktop klasik dan biasa menjadi desktop bawaan beragam distribusi ringan (lightweight). LXDE diperkenalkan pertama kali pada tahun 2006 sebagai desktop berbasis GTK2. Hong Jen Yee, inisiator proyek, awal tahun 2013 mulai bereksperimen mengalihkan desktop ke basis Qt karena tidak puas dengan GTK3. Tepat lima tahun lalu, tanggal 3 Juli kemarin, dirinya resmi mengumumkan hasil porta LXDE ke Qt.

Tidak jauh dari rilis awal LXDE berbasis Qt, proyek baru desktop serupa diperkenalkan. Razor-qt mempunyai gol yang sama seperti LXDE, sehingga Hong Jen Yee dkk bersama Razor-qt saling berdiskusi membahas potensi mergernya mereka menjadi satu proyek. Tepat tanggal 21 Juli 2013, Razor-qt mengumumkan mereka resmi bergabung dengan LXDE dan membentuk proyek bernama “LXQt”. LXQt 0.7.0 adalah rilis awal hasil penggabungan LXDE dan Razor-qt.

Ulasan

Antar muka LXQt tidak jauh berbeda dari LXDE. Ia menerapkan metafora desktop dengan menu aplikasi, panel bawah, dan shortcut aplikasi pada desktop.

Fitur-fitur standar desktop

Secara bawaan, LXQt hanya membawa satu panel di bagian bawah. Pengguna dapat menambahkan panel baru dengan cara melakukan klik kanan, pada menu konteks pilih Add New Panel. Panel LXQt menyediakan widget untuk melengkapi fungsionalitas desktop.

LXQt
Gambar 1. Desktop LXQt (sumber wallpaper: /r/EarthPorn)

Apakah tadi saya sudah menyebut menu aplikasi? Menu aplikasi adalah salah satu widget. Umumnya, dari kiri ke kanan, distribusi GNU/Linux biasa menyediakan panel LXQt dengan widget menu aplikasi, Desktop Switcher (pengalih desktop atau workspace), Quick Launch (peluncur cepat aplikasi aplikasi pilihan), Task Manager atau taskbar (untuk mengelola aplikasi aktif), System tray, Show Desktop (tombol untuk kembali ke desktop), dan World Clock (untuk menampilkan jam dan kalender).

Di luar itu, widget lain untuk menampilkan status baterai, koneksi jaringan internet, pengatur volume suara, pemonitor CPU/memori, dan lain sebagainya dapat ditambahkan dengan cara klik kanan pada panel.

Tambah Widget LXQt
Gambar 2. Tambah widget di panel LXQt

Window manager utama LXQt adalah Openbox. Ringan iya, tetapi tak begitu atraktif. Saya tidak dapat mengatur jendela secara tiling, baik tiling setengah (kanan kiri) maupun tiling seperempat (pojok kiri atas bawah, pojok kanan atas bawah). Saya lebih memilih menggunakan window manager lain ketika menggunakan LXQt seperti KWin–window manager dari KDE Plasma. Untuk mengganti window manager yakni klik menu aplikasi lalu pilih Preferences > LXQt Settings > LXQt Configuration Center > Session Settings. Pada pilihan dropdown Window Manager, pilih window manager yang ingin dipakai dengan tombol Search…​ . Di openSUSE, berkas binary KWin dinamakan dengan kwin_x11.

LXQt tema
Gambar 3. Ganti tema LXQt

PCManFM-Qt adalah manajer berkas bawaan LXQt. Ia tetaplah fungsional meskipun terlihat oldschool. Yang cukup mengganggu adalah PCManFM-Qt tidak dapat mengingat pengaturan ketika saya pergi ke sebuah direktori dan mengubah tampilan (view); Icon, Thumbnail, Compact, atau Detailed list. Sebenarnya ada opsi penyimpan pengaturan Preserve Settings for This Folder tetapi itu tidak berfungsi. Masalah ini kemungkinan masalah khusus distribusi GNU/Linux, bukan masalah LXQt secara keseluruhan.

LXQt PCManFM-Qt
Gambar 4. PCManFM-Qt

LXQt sangat bisa dikustomisasi, pada Widget Style (merujuk pada gaya atau bentuk kotak dialog), Tema Ikon, Tema LXQt, Fon, dan Kursor. Jadi, walaupun LXQt terlihat “kaku”, ia sebenarnya dapat dipercantik sesuai selera pengguna.

Konklusi

LXQt yang disebut sebagai generasi baru LXDE masih sama ringannya seperti generasi sebelumnya. Kalaupun “lebih berat” LXQt dibanding LXDE, selisihnya tidak begitu banyak. LXQt sangat cocok digunakan oleh pengguna yang ingin memiliki desktop minimalis dan ringan begitu juga oleh pengguna yang hanya memiliki perangkat dengan spesifikasi terbatas.

Hampir semua distribusi GNU/Linux telah membenamkan LXQt di repositori resmi, jadi jangan khawatir kalau Anda harus memasangnya secara manual dengan perintah make atau semacamnya.

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana
slot iklan

4 comments on “[Ulasan] ‘Desktop Environment’ Ringan LXQt

  1. aqfa says:

    huruf X dlm proyek open source/unix like itu maksudnya apa yaa min?

    1. Sep Tumbara says:

      Saya rasa huruf X yang biasa digunakan dalam proyek-proyek GUI seperti Xfce, LXDE, LXQt, adalah nama untuk window system yang biasa digunakan di sistem operasi mirip Unix, nama lengkapnya X Window System, biasa juga disebut X11.

  2. Anonim says:

    Mantap ini om Ramzi dengarkan dialita juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top