Esai

Saya Ingin Tetap Merekomendasikan Ubuntu-indonesia.com (FUI), tetapi …

Di kuartal pertama tahun 2016 itu, Forum Ubuntu Indonesia mengganti mesin forum ke phpBB. Tidak hanya itu, mereka juga memperbarui tampilan demi menyegarkan ruang diskusi favorit para pengguna Ubuntu di Indonesia …​ dahulu.

Forum Ubuntu Indonesia yang biasa disingkat menjadi FUI dan beralamat di ubuntu-indonesia.com dibentuk pada tahun 2008. Sebetulnya, tidak secara pasti tahun “2008” karena pada awalnya, ubuntu-indonesia.com bukanlah ruang diskusi para pengguna Ubuntu, tetapi ruang bisnis PT. Okusi Jaya, baik layanan dukungan Ubuntu Server maupun penjualan CD Ubuntu original. Terlihat pada web.archive.org, perubahan ubuntu-indonesia.com menjadi FUI terjadi di rentang waktu antara 9 Juni sampai 20 Desember 2009.

Forum ini merupakan forum besar dengan banyak kelebihan. Namun, di era media perpesanan bersifat realtime seperti saat ini, forum seperti FUI tak lagi banyak dilirik. Sepuluh atas pengguna dengan pos terbanyak yang terlihat pada halaman muka ubuntu-indonesia.com saja sudah lama tidak masuk log ke laman tersebut. Para pengguna GNU/Linux, Ubuntu salah satunya, lebih senang ngobrol di grup Facebook dan grup Telegram.

Hal ini diakui sendiri oleh salah satu pegiat Ubuntu Indonesia melalui surel, “…​ munculnya grup-grup komunitas Ubuntu Indonesia baik di Facebook ataupun Telegram, para pengguna mulai beralih ke platform tersebut,” tuturnya. Menurutnya, ada beberapa kelebihan yang ditawarkan oleh forum FUI dibandingkan dua platform tersebut, yakni fitur arsip yang mengizinkan pengguna membuka arsip pertanyaan lawas sehingga tidak perlu ada pertanyaan sama yang disampaikan berulang-ulang. Dapat terindeks mesin pencari dengan mudah, serta tulisan anggota forum yang tidak bakal hilang selama server tidak rusak.

Forum diskusi seperti FUI lebih mudah diindeks oleh mesin pencari. Dengan kata kunci sederhana “Ubuntu Indonesia”, ubuntu-indonesia.com alias FUI langsung muncul di halaman pertama Google. Karena konsep filter bubble-nya, peringkat munculnya tautan ubuntu-indonesia.com mungkin berbeda antar pengguna Google, tetapi saya yakin ia tetap muncul di halaman pertama. Saat saya mencoba mencari kata kunci “Ubuntu Indonesia” di DuckDuckGo, FUI muncul di halaman pertama peringkat kedua. Di halaman Google yang sama, grup Facebook Ubuntu Indonesia teramai muncul di bawah FUI sedangkan di DuckDuckGo, grup Facebook tersebut muncul di halaman dua.

Walaupun Google telah mengindeks lebih dari 620 juta grup Facebook, bukan berarti Google mampu mengindeks ratusan bahkan ribuan pos yang diunggah di grup. Grup Ubuntu Indonesia di Facebook yang dibentuk pada tahun 2007 saja hanya menghasilkan 4.410 tautan hasil pencarian. Sedangkan FUI yang resmi meluncur sebagai forum dua tahun kemudian (2009), sudah terindeks di Google sebanyak 13.700 tautan hasil pencarian.

Forum Ubuntu Indonesia di Google
Gambar 1. FUI di Google

Ubuntu Indonesia Facebook
Gambar 2. Grup Facebook Ubuntu Indonesia di Google

Mengenai pengarsipan, grup Facebook sebenarnya sudah tidak kalah dari platform forum “tradisional”. Di grup Facebook pengguna dapat mencari diskusi melalui kolom pencarian yang berada di bagian kiri dan dokumentasi yang ditulis oleh anggota melalui halaman files. Begitu juga ketika membahas tulisan forum yang tidak bakal hilang selama server tidak rusak. Sebetulnya, grup Facebook juga seperti itu, hanya moderator, administrator, dan rusaknya server yang bakal menghapus tulisan anggota.

Bulan Oktober 2018 kemarin, saya sempat membuka survei kecil-kecilan yang menanyakan seberapa sering pengguna GNU/Linux dan BSD di Indonesia berdiskusi via media sosial (Facebook) dan forum khusus seperti FUI. Survei diisi oleh 27 responden, hasilnya tak sesuai yang saya harapan karena imbang. Sebanyak 14,8 persen sama-sama sering berdiskusi lewat media sosial dan forum khusus. Sebaliknya, 29,6 persen tidak pernah berdiskusi lewat media sosial dan 18,5 persen tidak pernah lewat forum khusus. Di luar itu, hasil survei juga berimbang seperti sebelumnya, tak terlalu mempengaruhi hasil akhirnya.

Kalau boleh jujur, saya ingin tetap merekomendasikan forum khusus alih-alih media sosial sebagai ruang diskusi. Praktik komunitas daring GNU/Linux dan BSD di negeri Eropa dan Amerika pun sebetulnya lebih mengutamakan forum khusus, dibanding forum di media sosial dengan beberapa alasan; pengembang yang lebih sering nongkrong di forum khusus (resmi maupun tidak resmi), pengarsipan yang lebih bagus, dan alasan lainnya. Sebagai contoh, administrator grup Facebook openSUSE yang menyarankan pengguna untuk berkontribusi langsung ke forums.opensuse.org.

Di Indonesia, orang-orang mungkin memang lebih suka dengan media sosial Facebook sebagai ajang diskusi karena mereka tak perlu repot membuat banyak akun di sana dan di sini. Cukup satu akun Facebook, mereka dapat mengobrol dengan teman, menuliskan status, hingga berdiskusi di grup. Selain Facebook, Telegram juga tengah santer digunakan oleh komunitas. Sifat realtime-nya mengungguli platform apapun di luar sana, bahkan mengungguli Facebook itu sendiri.

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana
slot iklan

4 comments on “Saya Ingin Tetap Merekomendasikan Ubuntu-indonesia.com (FUI), tetapi …

  1. Nif Kurniawan says:

    Wah, tulisan yang bagus om Ramdzi ๐Ÿ™‚
    Dan cukup membuat saya sedih,, mengingat bahwa saya sendiri merupakan salah satu yang merasa ‘diajari dan dibesarkan’ oleh forum tersebut. Dari mulanya benar-benar ‘newbie’, hingga sedikit-sedikit cukup mampu mengeksplorasi kebutuhan sistem saya sendiri.

    FUI dulu juga merupakan satu dari sangat sedikit media diskusi GNU/Linux yang mana saya merasa bahwa pengguna newbie diterima dengan ramah. Diajari, bukan dihardik. Salut untuk para mastah generasi awal FUI yang mampu membentuk tradisi tersebut. Saya banyak berutang budi di sana.

    Kembali ke masalah forum, memang benar, bahwa forum di Indonesia sekarang sedang relatif sepi. Trend-nya berubah.
    Kita ingat bahwa dulu banyak ruang diskusi berbentuk forum. Selain FUI, ada juga forum legendaris forum.linux.or.id (yang sayangnya saat ini telah non-aktif). Perlahan, trend-nya beralih ke group FB. Dan sekarang, sedang beralih lagi ke Telegram. Selanjutnya? Entah, mungkin akan balik ke bentuk forum lagi :).

    *) Bukan tanpa alasan. Secara teknis, saya merasa bahwa forum sebenarnya memang lebih cocok digunakan untuk tanya jawab dibanding media semacam Telegram. Antara lain karena;
    – masing-masing pertanyaan memiliki ruang thread sendiri-sendiri. Sehingga tidak saling tercampur dan tumpang tindih.
    – apabila ada pertanyaan serupa yang berulang, tinggal diarahkan ke thread yang sudah ada. Sehingga pertanyaan yang sama tidak terus menerus berulang berkali-kali.
    – mudah mengikuti progress percakapan kita, tidak ‘terkubur’ percakapan lainnya.
    – dll


    Btw, tulisan om Ramdzi ini secara tidak langsung juga menjadi pengingat bagi saya yang sudah lama kurang aktif di forum ๐Ÿ™
    Kendala waktu adalah penyebab utamanya (tidak se-fleksibel dulu).
    Mungkin saatnya saya mencoba untuk mulai lebih aktif lagi ๐Ÿ™‚

    1. fathurhoho says:

      Setuju mas.

      Memang kalau ditanya “kenapa lebih memilih instant messenger” dibanding “forum” untuk diskusi. Sebagian besar bakal jawab, karena lebih cepat, dapet solusi dan tanggapannya. Termasuk saya sendiri.

      Tapi ya itu, manfaat menggunakan forum jauuuuhh lebih banyak, dari arsip diskusi, tatanan thread, dsb. Dari forum, ke facebook, lalu ke telegram. Manfaat-manfaat diatas tadi perlahan kebuang. Hehe.

      Kalau dari segi tertib diskusi, berubahnya jauh banget. Kalau di forum, dilatih aware sama hal ini:
      1. Threadnya pas, engga salah kamar.
      2. Informasinya jelas.
      3. dst
      *ini dianggap ribet bagi sebagian orang, makanya lebih milih ke (misal) telegram.

    2. Terima kasih, mas ๐Ÿ™‚

      Setuju banget dengan poin yang disampaikan Mas Nif

  2. aluna says:

    klo pake forum sebenarnya enak, bwt saya yg awam ketika saya searching di google langsung muncul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top