Event

Obrolan Kopi Darat di Acara FLOSS di Taiwan Tak Kalah Menarik dari Acara Utama

Begitu banyak acara yang berhubungan dengan open-source, sebanding dengan banyaknya pula proyek open-source yang telah dibangun selama ini. Acara luring yang mempertemukan para pengguna, pegiat, pengembang, dan kontributor dapat menjadi ajang untuk berbincang, menambah kawan, dan berbagi ilmu maupun ide.

Akhir pekan kemarin, selama tiga hari, tepatnya tanggal 10 sampai 12 Agustus, beberapa komunitas tumplek blek menyelenggarakan tiga acara sekaligus: openSUSE.Asia Summit 2018, COSCUP, dan GNOME.Asia Summit 2018 di Taiwan, Tiongkok.

Sesuai namanya, openSUSE.Asia Summit 2018 adalah pertemuan puncak yang diadakan oleh komunitas openSUSE di Asia, begitu juga dengan GNOME Asia.Summit 2018 yang diadakan oleh komunitas GNOME di Asia. Berbeda dengan keduanya yang bersifat niche, COSCUP (Conference for Open Source Coders, Users and Promoters) merupakan agenda tahunan yang cenderung umum. Diselenggarakan sejak tahun 2006, COSCUP merupakan sebuah acara akbar untuk mengadvokasi gerakan perangkat lunak bebas/merdeka di Taiwan. COSCUP mirip seperti acara pertemuan puncak dan konferensi yang diisi dengan ngobrol-ngobrol yang disampaikan oleh kontributor lokal maupun internasional. Ketiga acara diadakan di Gedung Internasional di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST).

Urusan registrasi dan jadwal acara dikelola melalui aplikasi COSCUP Pass yang tersedia untuk Android maupun iOS. Kecuali untuk acara openSUSE.Asia Summit 2018 yang dapat didatangi tanpa perlu menggunakan aplikasi tersebut.

Sesi ‘BoF’ atau ‘Kopi Darat’

Sebanyak 14 pegiat FLOSS (Free/Libre Open Source Software) dari Indonesia, 3 di antaranya sebagai undangan spesial, ikut memeriahkan acara ini. Keempatbelas pegiat tersebut yakni Tonny Adhi Sabastian, Ahmad Romadhon H, Rahman Yusri Aftian, Estu Fardani, Mohammad Rifki Affandi Z, Didiet A. Pambudiono, M. Edwin Zakaria, Kukuh Syafaat, Yan Arief, Siska Iskandar, Iwan S. Tahari, Ahmad Haris, Darian Rizaludin, dan Joko Susilo.

Pada tanggal 11 Agustus, hari Sabtu, COSCUP mengadakan sesi BoF (Birds Of a Feather) atau dalam Bahasa Indonesia dapat dipadankan dengan “Kopdar (Kopi Darat)”. Sebuah sesi informal yang membahas beragam topik bebas, suka-suka, sesuai komunitas yang mengadakannya. Komunitas yang berkontribusi mengadakan BoF termasuk COBINHOOD, DEXON, SITCON, LIT Team, Arch Linux Taiwan & Archers, Ubuntu Taiwan, openSUSE.Asia bersama openSUSE Taiwan dan openSUSE internasional, Cloud Native dan SDN, GNOME Asia bersama GNOME Foundation, Taiwan Linux Kernel Hackers (TWLKH), dan komunitas lainnya. Sebagian pegiat FLOSS dari Indonesia juga mengikuti sesi bebas ngobrol ini.

Dari keterangan narasumber, apa yang dibahas pada sesi Kopdar tidak kalah menarik dari acara utama. Kopdar komunitas openSUSE membahas peluang India dan Indonesia (tepatnya Bali) sebagai tuan rumah openSUSE.Asia Summit selanjutnya sedangkan Kopdar komunitas GNOME membahas kemungkinan diadakannya sesi BoF atau Kopi Darat disertai hackfest di konferensi mendatang.

Meskipun dalam daftar peserta BoF atau Kopi Darat yang ditulis oleh COSCUP tidak menyertakan komunitas LibreOffice, ternyata LibreOffice Asia juga mengadakan Kopdar seperti yang lainnya, tetapi di ruang yang berbeda.

Tahun depan, komunitas LibreOffice Asia sepertinya tertarik mengadakan LibreOffice Conference Asia pertama. Ia akan menjadi salah satu acara yang terdaftar secara “resmi” di laman wiki events TDF. Bahasan Kopdar tak berhenti di situ, di kesempatan ini, tim Kesenian LibreOffice juga memamerkan penggunaan Blender untuk membuat media promosi LibreOffice Viewer Android. Media promosi yang dimaksud dapat dilihat di bawah ini.

Perwakilan dari komunitas LibreOffice Indonesia membahas penggunaan Synfig untuk membuat motion. Bahasan ini sangat ditunggu-tunggu oleh komunitas dari Taiwan mengingat mereka tertarik dengan motion yang dipakai di video LibreOffice Conference Indonesia yang ternyata dibuat dengan Synfig.

Trivia tapi penting

Logo openSUSE.Asia Summit 2018 dan GNOME.Asia Summit 2018 dibuat oleh Komunitas Gimpscape. Logo openSUSE.Asia Summit 2018 didesain oleh Herbanu Tri Sasongko dan logo GNOME.Asia Summit 2018 didesain oleh Wisnu Adi Santoso.

openSUSE.Asia Summit 2018
Gambar 1. openSUSE.Asia Summit 2018
GNOME.Asia Summit 2018
Gambar 2. GNOME.Asia Summit 2018

Sepatu FANS yang selama ini memanfaatkan dan berkontribusi banyak di bidang FLOSS juga membuat edisi spesial terbatas untuk GNOME.

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana
slot iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top