Review

[Review] Mengulas Endless OS, Sistem Operasi Kekinian yang Layak Dicoba

Saya melangkah mantap naik lift di gedung pascasarjana PENS menuju lantai 6. Saat itu, LibreOffice Conference Indonesia sudah dimulai. Saya bergegas menandatangani beberapa lembar kertas kehadiran dan menerima goodie bag dari panitia. Mengintip sedikit suvenir tersebut dan …​ taraaaa …​ ada DVD Endless OS di situ. 🙂

DVD Endless OS

Sebelumnya, terima kasih kepada Endless yang telah memberikan suvenir berupa DVD dan stiker. Sejak Endless OS resmi masuk Indonesia, saya baru mencobanya satu kali di booth di acara pameran komputer Yogyakomtek 2017. Dengan adanya DVD ini, saya dapat langsung mencobanya di laptop dan menulis ulasannya di situs Kabar Linux.

Boot ke Endless OS

DVD Endless yang saya dapatkan dari LOCI adalah versi 3.2.6—​rilis yang relatif lawas, hadir September 2017 lalu. Meski begitu, versi Endless OS tersebut cukup mewakili segala perkembangan dan fitur terkini yang ada di sistem operasi GNU/Linux untuk pengguna awam ini.

Saya mem-boot DVD Endless OS 3.2.6 melalui laptop. Untuk masuk ke desktopnya sangat lama, lebih lama dari waktu yang dijanjikan oleh sistem operasi tersebut pada layar splash (Endless OS akan masuk sekitar 6 menit). Namun, ini sangat wajar, karena media DVD memiliki kecepatan baca tulis yang buruk, dibandingkan dengan USB Flashdrive atau bahkan harddisk.

Setelah masuk ke desktop pun, Endless OS tidak langsung tampil sempurna. Endless OS memuat terlebih dahulu panel bawah (taskbar) tanpa tombol shortcut aplikasi dan tombol logo Endless OS (pojok kiri bawah), baru menampilkan dialog pilihan untuk mencobanya secara live atau langsung pasang sekitar 1 menit kemudian. Sayang, tangkapan layar saat munculnya dialog pilihan tersebut dan dialog untuk memilih bahasa, layout keyboard, dsb tidak tersimpan sehingga tak dapat saya tampilkan di sini.

Masuk Endless OS

Saat fase ini, saya mau tidak mau harus masuk ke sistem operasi Endless OS, baik untuk mencobanya secara live atau memasangnya di harddisk. Jadi, tinggalkan pikiran, ah, tidak jadi, besok aja, mood hilang. Saat saya mencoba memencet tombol Power laptop secara paksa (langsung klik sebentar maupun ditahan), Endless OS hanya akan men-suspend laptop, tidak mematikannya.

Sebelum melanjutkan ulasan, saya sampaikan bahwa saya mencoba Endless OS secara live.

Beragam aplikasi tersedia

Endless OS

Saya disuguhi dengan desktop Endless OS yang lengkap dengan segala aplikasinya. Setidaknya, cukup lengkap bagi pengguna yang menggunakan komputer mereka untuk bermedia sosial, berselancar, memutar musik dan video, bermain gim (game), serta menulis. Apabila sewaktu-waktu saya ingin memasang Endless OS, saya hanya cukup menjalankan aplikasi Format Ulang.

Kabar Linux di Endless OS

Ini adalah Endless OS edisi Indonesia. Saya dapat berselancar di internet menggunakan aplikasi Internet (Chromium), mengolah berkas dan direktori menggunakan Dokumen (Nautilus), menulis dokumen dengan aplikasi Penulis (LibreOffice Writer), Lembar Lajur (LibreOffice Calc), Presentasi (LibreOffice Impress), menjelajah ilmu pengetahuan dengan Ensiklopedia, memutar musik dengan Musik, memutar video daring dengan YouTube, mengobrol dengan teman menggunakan WhatsApp dan Facebook, dan membaca berita daring menggunakan Okezone. Empat aplikasi yang disebut terakhir hanyalah “shortcut” untuk membuka keempatnya menggunakan peramban.

Aplikasi lain yang layak untuk kita nikmati dimasukkan ke dalam sebuah “folder kategori”, seperti folder Media yang menyediakan Spotify, folder Belajar yang menyediakan beberapa aplikasi untuk belajar, folder Games (entah mengapa ini bukan “Gim” atau “Permainan”) yang menyediakan gim Tux Kart dsb, folder Sosial yang menyediakan aplikasi Twitter, GMail, dsb. Ada satu aplikasi yang menurut saya cocok dimasukkan ke folder Games tetapi malah ditaruh di luar: Minetest (mirip seperti Minecraft).

Desktop tersebut tidak menampilkan semua aplikasi, tetapi saya tetap dapat mencarinya via kolom Cari Google dan lainnya …​ dengan cara mengetikkan kata kunci. Akan ada semacam popup yang menampilkan aplikasi sesuai kata kunci yang dimasukkan. Contohnya, saat saya mengetikkan kata “terminal”.

Endless OS cari Terminal

Kolom tersebut juga dapat menjadi shortcut untuk mengakses mesin pencari Google di Chromium dengan kata kunci seperti yang dimasukkan. Lihat gambar di atas, di bawah ikon Terminal terdapat ikon Internet (Chromium) dengan keterangan Cari Google untuk “terminal”.

Masih tetap bisa “bermain” terminal

Endless OS tetap menyediakan Terminal bagi kamu yang ingin bereksperimen dengan apapun yang berhubungan dengan terminal atau bahasa scripting shell. Dengan terminal ini, kita dapat menjalankan aplikasi AppImage atau memasang paket Flatpak dari repositori lain (bukan dari repositori Endless OS atau Flathub).

Endless OS Terminal

Tulisan dari Kukuh Syafaat, salah satu duta Endless Indonesia, ini bisa menjadi rujukan: Install Firefox Quantum with AppImage on Endless OS dan Firefox Quantum Flatpak (memasang paket Flatpak Firefox Quantum di Endless OS).

Mengubah latar belakang dan menambah aplikasi

Saya dapat mengubah latar belakang Endless OS melalui menu Ubah Latar Belakang dengan cara mengklik kanan bagian kosong desktop.

Endless OS menu klik kanan

Kemudian saya disuguhi dengan dua pilihan, menu untuk mengubah Latar Belakang maupun Kunci Layar (Lock Screen).

Endless OS Latar Belakang

Di menu klik kanan yang sama, saya juga dapat memasang aplikasi, dengan cara masuk ke Tambah Aplikasi. Cara lain, kita dapat mengakses menu tersebut melalui shortcut Pusat Aplikasi dari desktop.

Endless OS Pusat Aplikasi

Selain itu, saya dapat menambahkan Website selain Facebook, Okezone, dan YouTube melalui menu Tambah Website. Misalnya, saya bisa menambahkan Website Kabar Linux.

Endless OS Tambah Website
Endless OS Tambah Website

Shortcut Kabar Linux akan muncul di desktop.

Endless OS

Konsumsi memori

Berikut tangkapan layar System Monitor saat saya menjalankan Endless OS. Karena desktop yang dipakai sistem operasi ini berbasis GNOME, tidak kaget jika konsumsi memori sebesar itu.

Endless OS System Monitor

Konklusi

“Nyaman” tetapi “aneh” adalah rasa yang pantas saya ungkapkan saat menjalankan Endless OS. Bagi pengguna GNOME, antarmuka dan UX Endless OS akan terasa familiar, berbeda jika kamu adalah pengguna desktop dengan metafora tradisional seperti Xfce, LXDE/LXQt, KDE Plasma, desktop Endless OS akan terasa aneh. Contohnya, tombol logo Endless OS di pojok kiri bawah selalu saya asumsikan sebagai menu aplikasi. Bah!

Bagi pengguna kasual, Endless OS sangat cocok. Namun, bukan berarti pengguna nerd di luar sana tidak dapat menikmati Endless OS. Mereka tetap masih bisa bereksperimen dengan skrip atau apapun melalui Terminal, walau mungkin agak terbatas.

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana
slot iklan

6 comments on “[Review] Mengulas Endless OS, Sistem Operasi Kekinian yang Layak Dicoba

  1. Imron Rosadi says:

    Bagus bgt emang pas nyoba install EndlesOs nya..
    Tapi sayang, pemartisian nya harus otomatis .. –delete semua partisi. 🙁

    1. anan234 says:

      hah jadi gak bisa milih partisi gitu ?

    2. Haha, soal ini saya juga setuju, kecuali kalau kita pengguna Windows ?

  2. Arman Firdaus says:

    Asus Tipe X555B laptop dengan sistem operasi endless bawaan.
    AMD A9 + Radeon R5 2GB
    Keren ngg tuh.

  3. onemergency says:

    sayang susah install driver printer, ga bisa install paket .deb
    pake bash di terminal juga ga bisa.
    padahal keren juga.
    terpaksa ganti deh…

    1. edn says:

      waduh, sayang sekali ya..
      semoga update-nya semakin baik lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll to top