Kisah

[#LOCIndonesia2018] Meliput LOCI, Tersesat di ITS, dan Sesi Makan Malam

Kisah yang masih berlangsung …​

Baca dulu kisah pertama di tulisan ini.

Kaku tujuh jam

Saya berangkat ke Surabaya pada hari Jumat, 23 Maret, saat lokakarya sudah berlangsung di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Dari Yogyakarta sampai ke Surabaya, kereta harus menempuh waktu enam jam lebih sedikit—​setidaknya itu yang ditulis pada keterangan penjualan tiket.

LOCI perjalanan

Ini adalah pengalaman saya naik kereta api pertama kali, “sialnya”, kereta ekonomi ini harus menempuh waktu tujuh jam untuk sampai stasiun Surabaya Gubeng (maklum, “kelas ekonomi”). Turun dari kereta, langsung menuju hotel murah meriah hasil pemesanan dari aplikasi penginapan populer dengan jarak sekitar 1km dari stasiun atau jika ditempuh dengan jalan kaki sekitar 10-15 menit.

Terlambat di hari pertama

Sabtu, 24 Maret, merupakan debut saya meliput langsung acara konferensi dan mengunggahnya ke @LibreOfficeID. Maafkan bila terlambat, sehingga sambutan dari pihak PENS dan pak Ahmad Haris pun tak sempat terliput. Ada beberapa alasan mengapa saya terlambat datang di hari Sabtu yang indah itu.

Jujur, saya baru pertama kali memasang aplikasi ojek daring di ponsel pintar alit Samsung yang saya miliki (di Yogyakarta saya lebih memfavoritkan naik motor sendiri atau Trans Jogja). Pertama, saya memasang Grab. Pilihan jatuh pada Grab, karena dia lebih hemat ruang memori, hanya mengonsumsi 20MB+. Namun sayang seribu sayang, tidak ada driver satu pun yang nyantol di aplikasi saya, padahal tepat di depan muka, para driver berseliweran.

Apa iya saya harus selalu pakai GrabNow?

Cukup lama berjibaku dengan aplikasi Grab di atas kursi berornamen dengan tiga sekat di pojok trotoar, saya menyerah. Hei! Setelah menggunakan Go-jek, saya justru mendapatkan driver dengan lebih cepat, tidak membingungkan seperti saat saya memakai Grab.

Perjalanan cukup lancar, hingga bertemu dengan bundaran, pak driver malah belok ke wilayah ITS. Saya yang hanya penumpang jelas cuma nurut, toh pak driver juga pasti menyimak GPS pada ponsel beliau. Semakin ke dalam kampus, pak driver-pun bingung.

“Jurusan apa mas?” tanya beliau.

“Setahu saya pascasarjana pak di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya.”

O .. o .. o, ternyata kami nyasar, berhenti sejenak untuk bertanya kepada salah satu satpam kampus, kami akhirnya menemukan kampus PENS di Jl. Raya ITS. Sampai sana sekitar pukul 09.00 WIB.

LOCI gerbang

Status galau, antara peserta atau panitia

Saya mendaftar sebagai peserta tetapi “bekerja” seperti panitia—​memfoto atau menulis reportase seputar konferensi pada akun Twitter @LibreOfficeID. Mengenakan kaos hijau, kaos yang diperoleh peserta setelah registrasi di depan auditorium, saya jepret sana, jepret sini, tulis sana, tulis sini, kemudian unggah ke media sosial tersebut.

Peserta atau panitia? Saya paham, panitia lokal dan panitia dari PENS tentu tak sedikit yang membatin, “siapa sih ini, keluar masuk ruangan kelas, langsung pergi setelah memfoto pengisi materi?”

Bahkan, salah satu panitia dari PENS sempat melihat saya sedang mengetik sesuatu pada ponsel di depan X-Banner ruang paralel 2 dan menanyakan, “mas, ada yang bisa saya bantu?”

Dari tiga ruang kelas paralel, kelas paralel 1 adalah kelas yang paling tidak saya sukai. Pintunya berat, sulit dibuka …​ mungkin sebenarnya ringan, tetapi perlu teknik dengan ijazah khusus untuk membukanya.

Oiya, hasil pos @LibreOfficeID disponsori oleh Sofyan Sugianto selaku pemilik ponsel.

Booth-booth di LOCI

Banyak booth didirikan di LibreOffice Conference Indonesia, di set bagian kiri (kalau kita datang dari arah auditorium) ada komunitas LibreOffice Indonesia, openSUSE dan openSUSE ID, Endless dan GNOME Indonesia, serta Radnet. Di set bagian kanan, ada DOMUS, BlankOn dan Sepatu Fans, Ridon, serta Inixindo/AOSI. Di bagian kiri pintu auditorium ada booth Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Di booth LibreOffice Indonesia, kita dapat menemukan buku Menulis Buku dengan LibreOffice dari pak Sokibi dan cenderamata lain. Di hari pertama, buku dari BLOI (Belajar LibreOffice Indonesia) juga sempat disandingkan dengan buku yang ditulis pak Sokibi tersebut. Yang keren, di hari terakhir, Italo Vignoli memberikan satu pak stiker langsung dari The Document Foundation kepada booth untuk dibagikan-bagikan kepada khalayak.

LOCI
Gambar 1. Buku dari BLOI bersanding dengan Menulis Buku dengan LibreOffice dari pak Sokibi (Bayu Aji)
LOCI
Gambar 2. Italo Vignoli (kanan) setelah menyerahkan stiker

Di booth openSUSE dan openSUSE Indonesia, kita dapat menemukan beragam cenderamata; dari pernak-pernik sampai boneka serta majalah Linux Magazine. Cenderamata juga dapat ditemukan di booth Endless dan GNOME Indonesia, Radnet, DOMUS, Sepatu Fans, BlankOn, Ridon, dan Inixindo/AOSI.

openSUSE
LOCI openSUSE

2018-03-25 09-17-43

2018-03-25 09-16-16

2018-03-24 08-27-53

2018-03-25 09-17-23

2018-03-25 09-17-36

(foto lainnya dapat dilihat di Flickr)

Tersesat di makan malam

Hari Minggu 25 Maret, saya mengikuti agenda makan malam. Sebelum itu, saya dan Bayu Aji dari Gimpscape sedikit berbincang di sebuah penginapan tidak jauh dari PENS bersama pak Ahmad Haris dan pak Iwan Tahari, kami berangkat ke Pondok Khas Jenggala (kurang lebih 3km dari penginapan) sekitar pukul 20.00.

Saya memesan Go-car, begitu juga dengan pak Iwan. Di Go-car yang saya pesan, ada saya, Bayu Aji, dan pak Franklin Weng, sedangkan di Go-car yang dipesan pak Iwan, ada pak Iwan sendiri, pak Italo Vignoli, dan pak Eric Sun. Konyolnya, saya ternyata salah memilih cabang resto Pondok Khas Jenggala. Seharusnya destinasi yang saya pilih adalah Pondok Khas Jenggala yang berada di Jl. Manyar Kertoarjo, bukan di Jl. H.R Muhammad yang berjarak sekitar 10km+ dari penginapan.

Setelah memastikan bahwa alamat yang kami tuju keliru (padahal sudah hampir separuh perjalanan), driver Go-car kemudian berputar menuju ke Jl. Manyar Kertoarjo.

LOCI
Gambar 3. Suasana makan malam di Pondok Khas Jenggala

Puluhan panitia, termasuk dari komunitas LibreOffice Indonesia dan para pembicara sudah berkumpul di situ.

Terima kasih kepada penyelenggara LibreOffice Conference Indonesia atas santap malamnya. Kenyang. Acaranya juga luar biasa keren! Cenderamata terfavorit adalah boneka maskot Fans berbaju LibreOffice Indonesia yang masih saya gantung di tas mungil ini.

LOCI boneka
Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana
slot iklan

6 comments on “[#LOCIndonesia2018] Meliput LOCI, Tersesat di ITS, dan Sesi Makan Malam

  1. Rania Amina says:

    Kominfo juga ikut pameran, lho 😀

    1. Wah lupa … berdasarkan mind palace-nya Sherlock Holmes, lokasi booth Kominfo mudah sekali dilupakan X)

      1. Harry Suryapambagya says:

        Sedikit koreksi Pak, Kementerian Komunikasi dan Informatika.
        *hasil dari mesin telusur, dan situs resmi-nya hehe. X)

        1. Iya Har, ngelindur itu ?

  2. Asem Bused says:

    Adanya pantia rasa peserta, dan peserta rasa panitia 🙂

    1. Dan itu membingungkan … ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top