Deepin Distro

Dituduh Mengoleksi Data Pengguna, Deepin Akan Hapus Kode Analisis dari Deepin Store

Salah satu komunitas yang sangat perhatian dengan hak privasi adalah komunitas pengguna sistem operasi GNU/Linux, atau yang lebih umum, komunitas pengguna/pengembang FLOSS (Free/Libre Open Source Software) dan teknologi terbuka lainnya. Pernyataan itu tidak bermaksud mengeneralisasi komunitas, mengingat masih sangat banyak pengguna GNU/Linux yang tetap setia menggunakan layanan pemanen data pengguna seperti Facebook (maaf, Kabar Linux juga, gengs!) dan Google. Setidaknya mereka tidak menggunakan si mimpi buruk Windows 10.

Semua orang tahu itu. Stereotipe “lebih paham privasi” tersemat kepada pengguna GNU/Linux juga karena didukung oleh prinsip pendiri GNU, Richard M. Stallman, dengan segala komentarnya dan pembocor rahasia Amerika, Edward Snowden, yang meng-endorse sistem operasi Tails.

Deepin
Gambar 1. Deepin (deepin.org)

Meskipun fenomena di atas umum diketahui, beberapa pengembang distribusi GNU/Linux masih “bermain api”. Mereka menerapkan fitur pengoleksi data yang diklaim akan dipakai untuk meningkatkan pengalaman pengguna (UX).

Deepin, beberapa bulan lalu, dituduh sebagai spyware. Pernyataan tersebut mungkin bisa menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh beberapa orang di Quora (ini dan ini). Tuduhan terjadi karena “fitur” pengoleksi data cnzz yang selama ini ada di toko aplikasi deepin (Deepin Store).

Pengembang distribusi asal Tiongkok tersebut kemudian membantah dan menjelaskan bahwa cnzz adalah penyedia layanan analisis statistik seperti Google Analytics. Cnzz mengoleksi informasi seputar user agent, resolusi layar, dsb secara anonim.

Tak lama. Orang yang sama yang menuduh deepin sebagai spyware kembali mengunggah video dan menyampaikan bahwa deepin masih berusaha mengoleksi data. Dari pengumuman yang diunggah Jumat lalu, deepin kembali menegaskan bahwa cnzz adalah penganalisis statistik seperti Google Analytics yang dibenamkan pada toko aplikasi berbasis web, Deepin Store. Pengguna di luar Tiongkok-lah yang selalu bersikap bias dan selalu menganggap produk teknologi dari Tiongkok pasti memata-matai penggunanya.

“Bagaimanapun, beberapa pengguna berpikir bahwa kode (penganalisis) statistik pada CNZZ yang digunakan di Deepin Store mengoleksi data privasi pengguna, khususnya bagi pengguna bias di luar Tiongkok, sistem operasi dari Tiongkok selalu dianggap tidak dapat dipercaya,” tuturnya.

Demi menghapus pandangan negatif dan kesalahpahaman seperti itu, di rilis mendatang, deepin akan meluncurkan Deepin Store tanpa kode cnzz.

Sungguh, cukup sulit mendapatkan kepercayaan tinggi dari para pegiat FLOSS. Sedikitpun “usaha” proyek FLOSS yang ingin melacak pengguna pasti disemprot oleh komunitas. Ubuntu merupakan contoh lain yang selama ini tidak memberi kesan baik; mereka sempat membenamkan fitur pencarian Amazon dan membenamkan fitur pengoleksi data pada rilis terbaru.

Bagaimana menurut Anda? Apakah usaha pengoleksian data seperti itu masih dalam tahap wajar atau tidak etis sama sekali?

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana
slot iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll to top