Esai

Distro Bukan Agama, Distrohopper Bukan Pendosa

Menatap wajah Bandi yang tengah sibuk menatap layar laptopnya. Bandi adalah pengguna GNU/Linux muda. “Muda” karena usianya yang memang masih muda dan juga “muda” karena pemula. Ia baru bergabung ke wagon GNU/Linux dua bulan lalu dan Ubuntu adalah pilihan terbaik yang masih ia pakai sampai sekarang.

Terkadang ia sibuk mengutak-atik sistemnya. Mencoba ini itu. Tidak takut galat, toh ada teman yang siap membantunya memperbaiki meskipun tidak setiap saat. Bandi cukup pintar, ia akan menulis langkah-langkah yang dilakukan sehingga dapat merunut balik jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Teman adalah hal terakhir yang ia jadikan rujukan jika sudah mentok.

Selain mengulik sistem, dia juga kerap berselancar di internet. Mencari referensi atau tips trik guna melihat cara terbaik (best practice) untuk melakukan sesuatu. Di kala bosan dengan hal teknis, ia mencari testimoni-testimoni menyenangkan para pengguna GNU/Linux, Ubuntu khususnya, sebagai penyemangat sekaligus sarana untuk semakin memantapkan diri karena telah meninggalkan sistem operasi sebelah yang katanya nonlegal itu.

Bandi bercerita, ada kalanya ia merasa semangatnya terlalu tinggi untuk mencicipi distro (distribusi) lain. “Aku ingin mencoba Fedora,” katanya. Hobi membaca artikel dan ikut berdiskusi di forum lokal ternyata tak selamanya positif. Keinginannya untuk mencoba Fedora turun. Tidak sedikit artikel dan anggota forum menyarankan Bandi untuk tetap bertahan di Ubuntu, jangan pindah-pindah distro.

“Mau ganti? Lah, kerjaannya gimana?”, ujar anggota forum. “Udah, di Ubuntu aja, jangan jadi distrohopper. Mending, buat kerja daripada ngelakuin hal enggak jelas,” kata anggota lain.

Distrohopper adalah sebutan untuk seseorang yang kerap berganti distro GNU/Linux guna mencari yang “sempurna” dan paling cocok.

Sebelumnya, Bandi sudah mencoba Fedora secara live, oleh karena itu ia gatal ingin segera pindah ke distro “anakan” Red Hat tersebut. Dual boot bukan jadi pilihannya selain karena berprinsip harus menggunakan sistem operasi tunggal, partisi yang ia atur sebelumnya telanjur tidak memisahkan mount point /home dan root (/), ia berniat akan memisahkannya nanti.

Selain menemukan pengguna yang menolak segala tindakan distrohopping, Bandi juga menemukan pengguna lain yang getol mengajak dia untuk pindah ke distro yang mereka pakai. “Pakai Arch Linux aja, simpel. Aku pakai Arch Linux selama 4 tahun puas banget. Bikin pinter Linux. Daripada pakai Ubuntu dan Fedora, tinggal klak-klik dan (Arch Linux) enggak perlu upgrade setiap enam bulan sekali,” tandas si A. Si B kemudian menyanggah, “Walah, pakai Arch Linux, buat Bandi sulitlah, Bro. Mending pakai Solus, eopkg-nya mantep kalau dibandingin dengan apt-nya Ubuntu.”

Komentar mengunggulkan masing-masing distro anggota forum semakin ramai. Begitu juga komentar yang menentang keinginan Bandi untuk mengganti distro.

Hai, pengguna GNU/Linux yang menjelma sebagai netizen yang maha benar. Tahan dulu cerewetnya.

Pikiran untuk selalu bereksplorasi bakal selalu ada di setiap kepala manusia. Yang membedakan adalah tingkatannya. Orang-orang yang bekerja menjadi pengembang (developer) aplikasi mobile pasti selalu bereksplorasi dengan metode-metode pengembangan baru dan bereksplorasi dengan fitur-fitur bahasa pemrograman anyar. Bandi adalah pengguna baru GNU/Linux. Ia juga berhak bereksperimen dengan dunia sistem operasi tersebut, berpindah-pindah distro adalah salah satu caranya. Setiap distro memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri. Biarlah pengguna seperti Bandi mendapatkan sendiri apa itu makna kecocokan dan kecintaan. Orang Jawa bilang, mboten pareng dirusuhi.

Situasi yang mirip ketika Anda tidak boleh memilih merek ponsel. Kata teman, Anda harus menggunakan Samsung, jangan yang lain. Pasti Anda akan bilang, “suka-suka saya, dong!”

Saya tidak menentang kebebasan berbicara. Terserah juga Anda mau bilang apa ke orang-orang seperti Bandi. Namun ingat, konteks “kebebasan” juga jangan melanggar kebebasan orang lain. Kita tak perlu menjadi dewa untuk melarang Bandi mendapatkan “pasangannya”. Jangan pula sok peduli dengan pekerjaan Bandi yang bakal keteter kalau pindah-pindah distro, Anda hanya ingin menyisipkan iklan bahwa distro Anda lebih sempurna daripada yang sekarang dimiliki/diinginkan Bandi, bukan?

Lho, saya kan cuma ngasih tahu, Mas. Lebih baik pakai distro ZZZ daripada MMM.

Agama saja tidak perlu ada paksaan, apalagi pilih distro.

Apalagi saya yang juga cuma ngasih saran, lebih bagus jangan pindah distro. Enggak punya kerjaan apa kok pindah-pindah distro?

Ah, mbelgedes.

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana
slot iklan

12 comments on “Distro Bukan Agama, Distrohopper Bukan Pendosa

  1. Harry Suryapambagya says:

    Hmm, jadi teringat dulu pernah menjadi distrohopper ini.
    Bahkan sekarang pun juga masih pengen. Hahahaha.

  2. Ben Syani says:

    Diawal ganti-ganti distro wajar sih. Ada keuntungan dibaliknya, dia jadi tau kelemahan dan kekuatan masing-masing distro. Bisa jadi kamus berjalan.

  3. EF says:

    saya baru tahu klo distrohopper dicap pendosa,,,

  4. Sendy says:

    “sistem operasi sebelah yang katanya nonlegal itu.”

    Sistem operasi mana yang nonlegal? Windows? Apakah Windows OS ilegal? Saya rasa OS nya legal, penggunaan lisensinya bisa jadi ilegal. Mohon dikoreksi agar tidak menimbulkan kesalahan informasi.

    1. Sebaris yang satire, Mas.

      Sepertinya tak seru, kalau saya menjelaskan secara eksplisit pada artikel bahwa kalimat itu satire 😉

  5. Nadine says:

    Jadi ingat beberapa tahun lalu. Saya juga pernah jadi distrohopper. Dan menurut saya itu wajar , karena selera orang berbeda-beda. Namun ada masanya seorang distrohopper akan menemukan distro linux yang cocok / sesuai keinginan dan harapanya itu hanya masalah waktu saja (IMHO). Kabar baiknya , seorang distrohopper mempunyai keuntungan memiliki pengalaman mencoba distro A , Distro B dll (fix , ini pembelaan namanya hahaha😁)

  6. Sebastian says:

    sempat jadi seperti Bandi 3 tahun yang lalu.. sekarang sudah menetap di Manjaro Linux… (padalah sebelumnya pernah tinggal di openSUSE lama) hehehe…

    1. Hermansyah says:

      gan, kok saya gagal ya booting live manjaro gnome, usb bbotable nya dibuat pake rufus 3.3

  7. Imron Rosyadi says:

    Ahahaha..
    Memang masih ambigu awalnya mau nyoba yang pas itu apa? Akhirnya menemukan distro juga yang cocok..

  8. Yurizal says:

    Saya merasa orang-orang seperti Bandi pasti sangat banyak. Saya juga seperti itu sebelum memakai Solus dari tahun
    2016.

  9. Burhan says:

    Linux ini memang sebaiknya dicoba dulu sehingga tau mana yang lebih cocok dengan penggunanya. Selain itu manfaat lainnya adalah pikiran yang terbuka sehingga ketika suatu saat diharuskan menggunakan distro lain, adaptasinya akan lebih mudah.

  10. Aris Ripandi says:

    Distrohopper pendosa? Tidak juga, lihat sisi baiknya. Dengan mencoba berbagai jenis distro si Bandi dan “pendosa” lainnya akan lebih memahami Linux itu sendiri. Kenapa saya bilang seperti itu? IMHO: karena dia akan lebih banyak memiliki pemahaman tentang konfigurasi dan karakteristik dari masih-masing distribusi Linux. Bahkan bukan hal mustahil kelak dia dapat meracik distribusi sendiri, entah itu turunan atau from scratch.

    Tidak sedikit pemula yang baru menjajaki Linux yang jadi distrohopper, termasuk juga saya. Ubuntu / Linux Mint biasanya menjadi pilihan pertama karena alasan kemudahan. Fedora lantas biasanya jadi second option. Dengan pengalaman menjadi seorang distrohopper saat ini saya menggunakan dua jenis distribusi yang bereda secara bersamaan: Debian saya gunakan untuk server, dan Fedora saat ini saya gunakan untuk komputasi harian dimana sebelumnya saya pun menggunakan Ubuntu untuk waktu yang cukup lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top