Esai

Chromium Mendominasi, Kembali ke Firefox?

Microsoft menyerah. Hari Kamis, 6 Desember, perusahaan asal Redmond itu mengumumkan akan menghentikan pengembangan EdgeHTML sebagai mesin layout peramban Microsoft Edge dan mengalihkannya menjadi Chromium (Blink). Edge tidak lagi berupa peramban asing, ia menjadi peramban seperti Vivaldi, Brave, dan Opera.

Microsoft Edge dirilis pertama kali pada 29 Juli 2015. Bernama kode Spartan, Edge berniat menggantikan Internet Explorer sebagai peramban bawaan sistem operasi Windows. Edge memang mengintegrasikan dukungan Cortana, anotasi, dan mode baca, tetapi sebagai mesin berjiwa muda, ia miskin. Wajar. Di saat peramban-peramban lain memiliki ekosistem ekstensi yang wah, Edge baru memperkenalkan dukungan ekstensi pada preview build bulan Maret 2016 dan hadir untuk pengguna saat rilis Windows 10 Anniversary Update, 2 Agustus 2016. Per bulan ini, ada 214 ekstensi yang dapat diunduh oleh pengguna, termasuk ekstensi populer seperti Pocket dan AdBlock.

EdgeHTML sendiri merupakan mesin layout proprietari yang dibangun dari basis Trident—​mesin pada IE. Pada mesin ini, dukungan HTML5 tidak begitu buruk, dilihat dari HTML5Test.com, Edge 18 memiliki nilai 496 lebih rendah satu poin dari Firefox 60 yang bernilai 497, kalah jauh dari Chrome 68 yang bernilai 528. Ta .. ta .. tapi, era kiwari adalah era yang sulit bagi pengembang mesin layout untuk peramban. Mereka harus memastikan kompatibilitas dengan fitur-fitur Chromium (Blink) yang digunakan oleh pengembang web. Ada 60 persen lebih pasar Chromium (Blink) sehingga tak kaget kalau pengembang web lebih fokus membenamkan fitur-fitur berdasarkan peramban besutan Google tersebut daripada mempedulikan peramban lain.

Pangsa pasar peramban

Pangsa pasar peramban

Banyak yang berpesta atas dibuangnya EdgeHTML karena Microsoft akan lebih berkontribusi ke Chromium yang merupakan proyek open-source. Dalam siaran persnya, Wakil Presiden Perusahaan, Joe Belfiore menjunjung tinggi pekerjaan besar mereka di lingkungan open-source. Di proyek Edge, Microsoft mengaku kalau beberapa komponen peramban mereka dibangun dari perangkat lunak open-source seperti Angle, Web Audio, dan Brotli. Dengan beralihnya ke mesin Chromium (Blink), Microsoft ingin menjadikan kualitas web lebih baik untuk para pengguna. Mereka juga ingin memperlebar sayap Edge sehingga dapat dinikmati oleh pengguna macOS.

Yang pasti, setelah Microsoft membuang EdgeHTML, dominasi Chromium (Blink) kian kuat. Keterbukaan web (open web) bisa jadi terancam karena ia akan dikendalikan oleh entitas korporasi bernama Google. Secara fisik, bisa jadi begitu, tetapi ini masih asumsi. Saya setuju dengan Ferdy Christant yang belum lama ini menulis analisis panjang mengenai situasi dunia peramban setelah Edge beralih ke Chromium (Blink). Keterbukaan web masih akan terjamin meskipun dunia akhirnya dikuasai Chromium (Blink), syaratnya semua anggota konsorsium W3C memiliki hak yang sama. Segala keputusan untuk menerapkan spec dirembug secara adil dan Google tidak memiliki hak veto.

Apa yang bisa kita lakukan?

Semua pengembang peramban sudah takluk. Mereka tak lagi repot-repot menulis mesin perambannya sendiri. Masing-masing hanya manawarkan keperbedaan antar muka (UI) dan fungsional khusus (seperti Brave). Sebagai pengguna biasa, terserah mau pakai peramban apa. Namun, sebagai pengguna yang peduli dengan keragaman mesin layout dan menjaga dunia web dari dominasi korporasi, Firefox adalah pilihannya.

Tidak. Saya tidak sedang melakukan peng-endorse-an. Dari sekian banyak entitas, Mozilla adalah satu-satunya lawan Google dengan peramban Firefox-nya. Mozilla berdiri secara independen untuk memperjuangkan keterbukaan web dan privasi sementara Google melakukan kebalikannya.

Chris Beard, CEO Mozilla Corporation, menyatakan kekesalannya terhadap Microsoft bahwa mengadopsi Chromium sama dengan menyerahkan kontrol penuh kehidupan daring yang lebih besar kepada Google. “Akankah keputusan Microsoft (mengganti EdgeHTML dengan Chromium -pen) semakin mempersulit Firefox untuk sukses? Bisa jadi,” ujarnya. Dilihat dari segala sudut, memperkuat Google adalah sesuatu yang berisiko. Jika satu produk seperti Chromium memiliki pangsa pasar cukup, ia akan memudahkan pengembang web dan kalangan bisnis untuk tidak mempedulikan apakah layanannya bekerja di luar Chromium.

“Itulah yang pernah terjadi ketika Microsoft memonopoli peramban pada awal tahun 2000-an sebelum Firefox dirilis. Dan itu mungkin akan terjadi lagi,” tutur sang CEO.

Semenjak Chromium menguasai pasar peramban, perjuangan yang dilakukan Firefox itu nyata. Mereka harus mengimplementasikan properti berprefiks webkit agar tampilan dan fungsi web tertentu yang lancar di Chrome juga berjalan lancar di Firefox. Silakan simak presentasi Mike Taylor dari Mozilla mengenai perjuangan Mozilla untuk melakukan hal itu.

Kita juga dapat membantu menyempurnakan Firefox (desktop maupun mobile) dengan cara melaporkan keanehan halaman web tertentu lewat laman webcompat.com. Hal itu akan mengejar ketertinggalan kompatibilitas web pada Firefox. Sebagai informasi, Mike Taylor adalah salah satu kontributor di webcompat.com.

Benar. Tren penggunaan Firefox memang terus turun dari bulan ke bulan, tetapi setidaknya kita yakin berdiri di sisi yang tepat. Kita mendukung keragaman, kompetisi sehat, dan dunia yang tak didominasi oleh satu entitas.

Namun, kalau di masa mendatang Chromium membunuh Firefox. Ya sudah, mau bagaimana lagi?

Apa yang perlu dilakukan Mozilla?

Ini adalah momen terbaik. Semua mata yang peduli tertuju kepada mereka, apalagi setelah Chris Beard mengungkapkan opini tak populernya. Mozilla perlu meningkatkan kepercayaan penggunanya dengan memperbaiki isu-isu kritis seperti bug berusia 11 tahun ini dan tidak melakukan hal-hal kontroversial lagi seperti pemaksaan penggunaan PulseAudio menggantikan ALSA.

Bagi yang selama ini pergi meninggalkan Firefox ke peramban berbasis Chromium (Blink), kembali lagi ke sana adalah hal terbaik.

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana
slot iklan

4 comments on “Chromium Mendominasi, Kembali ke Firefox?

  1. Rania Amina says:

    Entah mengapa saya agak kesulitan membaca postingak KL kali ini, bahasa yg digunakan serasa bukan KL banget 🙂

  2. mochboval says:

    Di komputer Firefox biasa saya gunakan untuk pakai akun-akun pribadi dan untuk blogging saya mengandalkan Brave. Sementara di smartphone saya sepenuhnya mengandalkan Brave (dan Opera Mini) karena fitur Adblock-nya bagus. Menurut saya Firefox bisa meraih marketshare kalau mereka buat Adblock bawaan sendiri, bukan add-on. Dan pastinya yg diblok hanya iklan, tidak seperti Brave yg ikut blok skrip seperti skrip dari situs sharethis.

  3. racuntikus says:

    Entahlah di zaman browser yang menjelma menjadi sistem operasi dan aplikasi-aplikasi berbasis elektron bertebaran, saya rasa semua kompetisi ini tidak ada gunanya. Sama-sama merusak, poison!

  4. Kartolo says:

    Masih setia dengan Mozilla Firefox … 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top