Berita

[#LOCIndonesia2018] Berkontribusi ke Proyek Open-source Tidak Melulu Menulis Kode

Banyak topik menarik yang disampaikan oleh para pembicara sepanjang acara LibreOffice Conference Indonesia 2018, dari bagaimana tips trik teknis menggunakan LibreOffice untuk tujuan tertentu sampai topik umum yang masih berhubungan dengan FLOSS dan komunitasnya.

Salah satu topik menarik yang dimaksud dibawakan oleh Rizki Kelimutu dengan judul How To Contribute To Open Source Project As A Non-Coder? (Bagaimana cara berkontribusi ke proyek open source sebagai nonpenulis kode?).

Masih banyak yang menganggap berkontribusi ke proyek open-source harus dengan cara menulis kode. Saya tidak mempunyai angka tepat dalam pernyataan “banyak”, tetapi orang-orang yang pernah saya temui dan masih awam dengan open-source pasti selalu berpikir “kontribusi = menulis kode”. Padahal masih banyak cara lho berkontribusi tanpa perlu mengandalkan logika pemrograman maupun ketikan tut keyboard buka/tutup kurung, titik koma, kode if …​ then …​ else, dsb.

SGA_4691

Rizki yang saat ini bekerja di Tim Pengembangan Komunitas Mozilla menyebut enam area yang dapat kamu masuki untuk memulai kontribusi sebagai nonpenulis kode. Area tersebut adalah pelokalan (l10n), desain, dukungan produk, jaminan kualitas, evangelis produk, serta advokasi.

Ia kembali mengerucutkan topik dengan mencontohkan berkontribusi pada ranah pelokalan. Pelokalan (l10n) merupakan proses penerjemahan sebuah produk ke dalam bahasa lokal, di kasus ini adalah bahasa Indonesia. Jika kamu sudah mantap untuk berkontribusi pada ranah ini, pastikan kamu memanfaatkan sumber daya seperti laman KBBI daring (kbbi.kemdikbud.go.id), Kateglo, maupun Tranvision. Sebelum itu, perhatikan Community Participation Guideline (Pedoman Partisipasi Komunitas) komunitas yang kamu ikuti, begitu juga dengan pedoman gaya penulisan, forum atau mailing list, dan grup obrolan.

Setelah mempersiapkan hal-hal di atas, silakan mulai berkenalan dengan perkakas pelokalan, contohnya Pontoon yang digunakan oleh Mozilla, Pootle yang digunakan oleh LibreOffice, dan perkakas lain termask Transifex, dan Amara. Jangan segan untuk bertanya kepada kontributor senior, tegasnya saat membawakan materi ini di kelas paralel 3.

Di dunia FLOSS, atau teknologi pada umumnya, kontributor perempuan pasti tidak sebanyak laki-laki. Menariknya, saat sesi tanya jawab mengenai fenomena ini, Rizki menyebutkan bahwa komunitas yang ia masuki justru mayoritas perempuan.

Kamu dapat mengakses slide materi yang dibawakan oleh Rizki Kelimutu melalui tautan ini.

Setelah mengikuti kelas tersebut atau setidaknya membaca artikel ini apakah kamu ingin mulai berkontribusi ke proyek open-source?

Omong-omong, saya tak bisa berjanji mengulas semua materi yang disampaikan di acara LibreOffice Conference Indonesia di Kabar Linux.

Gambar utama: Rizki Kelimutu (sumber: KLAS Suroboyo)

[wp_ad_camp_1]

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana
slot iklan

2 comments on “[#LOCIndonesia2018] Berkontribusi ke Proyek Open-source Tidak Melulu Menulis Kode

  1. Samsul Ma'arif says:

    Jadi, ehm… apakah penulis sudah dapat nomer weanya mbak Kiki? #ehm

    1. Dapat … ID Twitter sama Telegramnya ??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll to top