Berita

20 Ribu String Lebih dalam 2 Hari, Dua Komunitas Sukses Selenggarakan Penerjemahan LibreOffice

Semangat kolaborasi di lingkungan proyek perangkat lunak bebas/merdeka (FLOSS) terus digalakkan. Bukankah ekosistem terbuka harus seperti itu? Orang-orang tidak melulu tinggal pakai, mereka disarankan untuk ikut membangun dan mengembangkan perkakas yang biasa mereka pakai. Dari berkontribusi secara nonteknis hingga teknis.

LibreOffice Indonesia dan KLAS belum lama ini mengadakan acara guna menggugah orang-orang untuk semakin rajin berkontribusi meningkatkan pengolah dokumen LibreOffice sekaligus merupakan tindak lanjut dari Konferensi LibreOffice Indonesia 2018 yang diadakan di Surabaya, Maret lalu. Kedua komunitas tersebut mengadakan penerjemahan LibreOffice yang dilakukan selama dua hari, tepatnya tanggal 3 sampai 4 November 2018.

Poster acara penerjemahan LibreOffice

Poster acara

Acara diadakan dari pukul 09.00 sampai 16.00 WIB. Penyelenggara sepertinya sengaja menjadikan proyek penerjemahan LibreOffice senyaman mungkin dengan memilih Warung Upnormal yang berada di Jln. Doktor Wahidin No.111, Kebomas, Ngipik, Kecamatan Gresik sebagai ruang kontribusinya. Antusiasme terhadap penerjemahan LibreOffice cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran peserta dari GONTOR di samping peserta dari Gresik dan Surabaya.

Hari pertama acara, Sabtu 3 November, diisi dengan perkenalanan peserta dan komunitas. Perkenalan materi penerjemahan juga menjadi fokus di hari itu, terkait alat dan kelengkapan yang digunakan, tata aturan penerjemahan, dan sebagainya. Materi disampaikan oleh Andik Nur Achmad dari Gresik-Dev. Demi efektivitas pengerjaan penerjemahan yang akan dilakukan nanti, penyelenggara membagi peserta dalam kelompok-kelompok dan tugas sendiri.

Siapa bilang berkontribusi di dunia FLOSS kaku? Proyek penerjemahan di Warung Upnormal sangat seru, di samping karena interaksi antar peserta yang ramai dan santai, mereka juga bisa rehat sejenak dari kebosanan dengan memainkan permainan yang dipajang di tempat, seperti permainan Lego, UNO, dan sepakbola meja. Sementara itu, penerjemahan kala itu sangat produktif. Mereka berhasil menerjemahkan 10.000 string yang tersebar pada halaman bantuan dan antar muka; LibreOffice Master – Help, LibreOffice Master – UI, dan LibreOffice 6.1 – UI.

Agenda di hari pertama selesai, tetapi bukan berarti diskusi peserta juga selesai. Mereka tetap sibuk membahas penerjemahan di grup Telegram.

Pagi di hari kedua, Minggu, 4 November, kegiatan penerjemahan kembali dimulai. Hari itu peserta melanjutkan string yang belum sempat diterjemahkan pada hari pertama. Di sela kegiatan, penyelenggara memaparkan cara membangun (build) penerjemahan agar dapat ditampilkan pada aplikasi LibreOffice.

Acara selesai secara memuaskan. Mereka berhasil menerjemahkan total 24.448 string. Kesan positif diperoleh peserta, mereka berterima kasih kepada penyelenggara karena telah mengadakan kegiatan positif ini.

Ada harapan, akan lebih banyak kegiatan serupa. Memberdayakan pengguna agar tak lagi “pasrah” dengan tetap menjadi pengguna. Mereka bisa berbuat lebih, memanfaatkan sumber daya terbuka untuk menyempurnakan perkakas favorit yang juga bersifat terbuka. Salah satu peserta acara bahkan sudah berencana mengajar pemuda di desa untuk ikut berkontribusi menerjemahkan LibreOffice.

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana
slot iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top