Distro Linux Mint

Fokus pada Edisi Cinnamon dan MATE, Linux Mint Akan Singkirkan Edisi KDE

Cukup jarang mendengar kabar dari pengembang seputar Linux Mint. Sekali ada kabar, proyek distribusi GNU/Linux yang cocok dipakai oleh kalangan pemula ini membawa berita mengejutkan!

Sejak dahulu, Linux Mint menyediakan desktop environment KDE sebagai pilihan desktop yang dapat dipakai pengguna. Bahkan, desktop ini merupakan desktop utama Linux Mint 1.0 Ada yang saat itu berbasiskan Kubuntu 6.06. Di rilis berikutnya, desktop utama Linux Mint berganti ke GNOME kemudian ke Cinnamon dan MATE, edisi KDE tetap tersedia hingga rilis Linux Mint 18.2 Sonya.

Namun, di dunia ini pasti ada awal dan ada akhir. Mulai rilis Linux Mint 19, pengembang tak akan lagi menyediakan edisi KDE. “KDE merupakan lingkungan yang fantastik tetapi juga merupakan dunia yang berbeda, lingkungan yang menjauhkan kita dari fokus sebenarnya. Aplikasi mereka, ekosistem mereka, dan toolkit Qt-nya yang ada di sana memiliki sedikit persamaan dengan apa yang sedang kami kerjakan,” jelas pengembang.

Dari pernyataan tersebut, sebenarnya cukup wajar mengapa akhirnya Linux Mint membuang edisi KDE. Sejak rilis 2.0 Barbara, pengembangan Linux Mint lebih fokus pada lingkungan GTK dan GNOME yang mungkin akibat pengaruh Ubuntu—​sistem dasar Linux Mint—​yang juga fokus pada GTK dan GNOME. Pada tahun 2011, tim pengembang Linux Mint membangun desktop environment baru berjuluk Cinnamon yang juga berbasis GTK dan GNOME 3 dan hadir sebagai edisi utama mulai Linux Mint 13 Maya. Kehadiran edisi MATE sebagai edisi utama bersandingan dengan Cinnamon dan edisi tambahan Xfce juga dapat menjadi tanda-tanda ke arah mana pengembangan Linux Mint difokuskan.

Arah pengembangan semakin kuat saat tim Linux Mint membangun aplikasi XApps (Xed, Xreader, Xviewer, Xplayer, dll), Mintlocale, Slick Greeter, dan Blueberry yang menguntungkan tiga edisi desktop (Cinnamon, MATE, dan Xfce) tetapi tidak dengan edisi KDE.

Linux Mint edisi KDE
Figure 1. Linux Mint edisi KDE

“Kami tidak hanya menyediakan dan mendistribusikan rilis perangkat lunak upstream. Kami adalah sebuah produk distribusi (GNU/Linux) dan kami melihat kami sendiri sebagai sistem operasi desktop yang komplit. Kami senang mengintegrasikan solusi, membangun sesuatu yang hilang, beradaptasi jika ada yang kurang sempurna dan kami melakukan banyak hal yang tidak hanya di seputaran pengembangan desktop environment Cinnamon tetapi juga berterima kasih atas framework lintas-DE (desktop environment) yang mendukung lingkungan yang sama, seperti MATE dan Xfce,” tambahnya.

“Misi kami tidak untuk membangun variasi terlalu banyak sebagai upaya untuk menarik lebih banyak pangsa pasar Linux, dan kami sedikit sedih karena membiarkan edisi ini (KDE) pergi. Kami fokus pada sesuatu yang kami bisa lakukan dan kami suka untuk terus melakukan hal terbaik pada area tersebut. KDE sangat menakjubkan tetapi itu bukanlah fokus kami.

Rilis Linux Mint 18.3 akan menjadi rilis terakhir yang menyediakan edisi KDE. Mulai rilis 19, pengembang dipastikan menyingkirkan edisi ini dan akan lebih fokus pada Cinnamon dan MATE. Meski begitu, pengembang menjamin, bagi penggemar Linux Mint 19 yang ingin memakai KDE dapat menginstal desktop environment tersebut melalui PPA Kubuntu.

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana
slot iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll to top