Distro

Stali, Ubah Paradigma Pengguna Distro GNU/Linux

StaliBeberapa tahun ini, GNU/Linux memasuki era modern. Dimulai dari penghentian dukungan pustaka static link, perubahan FHS, hingga perubahan sistem init. Karena GNU/Linux adalah sistem operasi Unix-like, dan “seharusnya” benar-benar mendekati konsep sistem operasi Unix, seorang pengembang merilis distro GNU/Linux dengan membawa fitur yang hampir mendekati Unix.

Stali, akronim dari Static Linux, adalah distro yang menerapkan static link sebagai pustakanya. Sistem utama dan aplikasi yang diinstal secara default berbentuk static link alih-alih dynamic link.

Pengembangan Stali dipimpin oleh Anselm R. Garbe, orang dibalik window manager DWM. Menurutnya, static link memiliki performa yang lebih baik, lebih cepat, dan hanya menggunakan memori yang lebih sedikit. Selain itu juga lebih stabil serta mampu memperkecil kemungkinan retasan. Sayangnya klaim-klaim ini belum dibuktikan dalam bentuk data pasti.

Untuk mengurangi ukuran berkas binary , Stali menggunakan musl libc. Glibc dianggap terlalu gemuk dan bloat, serta sudah tidak mendukung kompilasi static link sejak glibc 2.x atau versi di bawah itu.

Rasa tradisional Stali juga terlihat dari tidak adanya manajer paket, segala instalasi paket dan pembaruan diambil langsung dari upstream melalui git. Ia juga tidak memakai SysV atau systemd, namun memakai sinit, sistem init yang dibuat sendiri oleh pengembang Stali.

Sistem hierarki berkas juga lebih tradisional, misalnya tanpa adanya /opt.

Anda bisa mengunduh berkas ISO Stali (34MB) di situs sta.li.

Ramdziana adalah seorang narablog, pecinta kode, penggemar open source, pengguna GNU/Linux, dan penggemar Sherlock Holmes. Ikuti akun Twitter/Sebangsa @ramdziana
slot iklan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll to top